Rahasia Keris Berdiri

Rahasia Keris Berdiri adalah suatu tehnik keseimbangan dalam mendirikan sebuah bilah keris. Keris yang bahan materialnya setabil dan berat titik tengahnya seimbang kemungkinan besar bisa berdiri sendiri tanpa adanya sandaran, hal ini perlu suatu kesabaran dan ketekunan dalam mendirikan sebuah keris baik diatas kaca, keramik dsb. Keris berdiri benarkah ada kekuatan magisnya? Mari kita simak artikel di bawah bisa sebagai wawasan dalam mengungkap Rahasia Keris Berdiri.

Pada mulanya Saya (masih dalam usia Remaja) melihat orang mendirikan Keris, lalu Saya minta diajari untuk mendirikan Keris, tapi orang itu mengatakan kalau ingin bisa mendirikan Keris harus mempunyai Ilmu dahulu, baru bisa mendirikan Keris, Ilmu yang dimaksud ini dalam Masyarakat Jawa adalah Ilmu Kebathinan, Tenaga Dalam dan masih banyak Ilmu-ilmu sejenis ini. Orang itu tidak mau mengajari walau sudah kenal dan akrab, memang usia orang itu lebih Tua dan sudah banyak pengalaman dalam hal Ilmu.
Saya karena benar-benar ingin bisa mendirikan Keris maka berfikirlah dengan menggunakan logika apa benar untuk mendirikan Keris harus mempunyai Ilmu dahulu, baru belajar mendirikan Keris, berfikir dan berfikir terus karena penasaran. Dalam pencarian ini tidak percaya kalau mendirikan Keris itu harus punya Ilmu dulu baru belajar mendirikan Keris, dan menemukan jawaban kalau mendirikan keris itu yang diperlukan bukan Ilmu Kebathinan dan semacamnya tapi harus trampil dalam hal keseimbangan menguasai benda, supaya dapat berdiri tidak jauh dengan hukum Fisika yaitu grafitasi.
Saya karena benar-benar ingin bisa mendirikan Keris maka berlatihlah setiap ada waktu untuk mendirikan Keris, latihan ini setiap hari dilakukan bahkan bisa lebih dari satu kali. Saya dengan Tiga Keris miliknya dipakai latihan bergantian dan semakin percaya kalau untuk mendirikan Keris tidak memerlukan Ilmu tapi harus trampil dalam hal keseimbangan benda, karena sesekali sudah bisa berdiri walau sebentar kemudian roboh Keris yang dia pakai berlatih itu.
Dari hari ke hari semangat Saya bertambah terus karena semakin trampil untuk mendirikan Keris dan kenyataan seperti yang Saya fikirkan, memang untuk mendirikan Keris tidak perlu belajar Ilmu ke bathinan atau Ilmu semacamnya akan tetapi harus mengusai keseimbangan benda dan harus berlatih sampai benar-benar trampil dan menguasai keseimbangan yang ada hubungannya dengan ilmu Fisika yaitu Grafitasi dan perbandingan Berat benda.
Dari pengalaman itu Saya tahu kalau untuk mendirikan Keris itu harus ada keseimbangan juga luar dan dalam, artinya harus benar-benar konsentrasi untuk merasakan, kapan waktunya Keris harus dilepas. Menurut Saya harus sama antara Rasa dan Perasaan dengan Keris yang dipegang, atau bisa disebut harus sinkron.

Baca selengkapnya »

Keris Dan Kejawen

Sebagai orang jawa tentunya budaya spiritual masih dirasa kental, walau zaman semakin modern namun cara pandang dan pola pikir meyakini hal mistik secara turun temurun tidaklah mudah hilang atau dihilangkan. Hal ini bukan rahasia umum lagi. Dikalangan penganut kepercayaan spiritual jawa atau lebih dikenal dengan sebutan kejawen tentu budaya spiritualnya tidak lepas dari pusaka warisan para leluhurnya yakni keris. Orang kejawen tidak bisa disebut kejawen jika tidak memiliki keris. (wong jowo ilang jawane).
Tentunya keris secara spiritual orang kejawen diyakini memiliki daya magis dan fungsi masing-masing, karena seorang empu menciptakan/membuat keris dengan pamor tertentu diyakini memiliki daya fungsi sesuai karakter pamor yang tertuang dalam keris tersebut.
Salah satu contoh: Keris Junjung Derajat tentunya si pemilik keris pusaka ini diharapkan terangkat derajat dan pangkatnya, hoki dan mudah mencari rejeki.
Percaya tidak percaya hal ini sudah terbukti dari generasi ke generasi, makanya banyak mitos dan legenda yang terkait yang berhubungan dengan keris.
Keris pusaka bagi orang jawa dihormati dan dijunjung tinggi,baik segi perawatan,pembersihan/jamasan,dsb. Karena keris dipandang memiliki daya tuah tertentu maka dengan merawat dan menghormatinya bisa mengayomi dan mendatangkan berkah atas seijin Tuhan.
Tradisi pemakaian keris secara umum dijaman modern ini hanya pada acara tertentu misalnya mantenan/acara perkawinan. Namun tradisi kejawen setiap ritual bisa dipastikan tidak lepas dengan meyanding keris.
Keris dan Kejawen tidak bisa dilepaskan, itu suatu bentuk nguri-nguri budaya leluhur yang masih dipertahankan hingga kini. Keris adalah hargadiri seorang kejawen baik dilihat secara umum atau secara spiritual.

Pamor Keris

Pamor merupakan hiasan atau motif atau ornamen yang terdapat pada bilah tosan aji (Keris, Tombak, Pedang atau Wedung dan lain lainnya). Hiasan ini dibentuk bukan karena diukir atau diserasah (Inlay) atau dilapis tetapi karena teknik tempaan yang menyatukan beberapa unsure logam yang berlainan. Teknik tempa ini sampai saat ini hanya dikuasai oleh para Empu dari wilayah Nusantara dan sekitarnya saja (Malaysia, Brunei, Philipina dan Thailand) walau ada yang berpendapat asal teknik ini dari Tibet atau Nepal, tetapi pendapat tersebut tidak beralasan sama sekali. Diluar wilayah Nusantara dan sekitarnya biasanya hanya dikenal teknik Inlay saja seperti pedang dari Iran atau negara Eropa lainnya sehingga walau secara seni (art) tampak indah tetapi kesan “Wingit” nya tidak ada sama sekali. Ada kalanya Pedang buatan Empu diluar wilayah Nusantara terdapat juga Pamor, tetapi biasanya karena tanpa sengaja sewaktu dibuat pedang tersebut tercampur beberapa logam lainnya yang mengakibatkan timbulnya pamor tersebut, kadangkala munculnya pamor tersebut setelah pedang tersebut berumur ratusan tahun. 
Ini pula yang mungkin menjadi dasar Empu diwilayah Nusantara (Khususnya Jawa) yang mengolah cara pencampuran berbagai logam sehingga terbentu pamor yang indah dan bernilai seni tinggi. 
Bahan pamor ini oleh kebanyakan penulis dari barat dikatakan dari bahan Nikel, padahal ini salah sama sekali karena berdasarkan penelitian oleh Bapak. Haryono Aroembinang MSc (alm) dan beberapa ahli di BATAN Jogjakarta didapat bukti bahwa bahan itu adalah Titanium, suatu bahan yang baru pada abad 20 digunakan sebagai bahan pelapis kendaraan angkasa luar, padahal empu kita sudah menggunakannya dari dulu. 
Ini diterangkan sebagai berikut, ketika meteor masuk ke atmosfir bumi maka sebagian besar bahan tembaga, besi, nikel, timbel, kuningan terbakar hancur dan hanya titanium yang bertahan sampai bumi. Bahan baku pamor dahulu dibuat dari meteor yang terdapat dibumi sehingga keris jaman dulu banyak mengandung Titanium dan beratnya juga ringan. Terkenal dulu bahan pamor dari Luwu, Sulawesi Selatan yang dibawa oleh pedagang dari Bugis. 
Bahan Pamor yang paling terkenal adalah Pamor Prambanan, saat ini ada di Kraton Surakarta diberi nama Kanjeng Kyai Pamor dan ukurannya sekarang tinggal sekitar 60x60x80 Cm sebesar meja kecil karena sudah banyak digunakan empu membuat karis pesanan dari Kraton. Setelah bahan meteorit susah didapat, barulah bahan Nikel digunakan, sehingga keris saat ini bobot nya biasanya lebih berat dari keris kuno.

sumber: pdffactory.com

Rincian Bagian Keris

Rincikan Keris adalah perincian dari bagian-bagian sebilah keris dengan istilah-istilah yang telah ada turun-temurun. Ricikan sebilah keris dapat dianalogikan dengan suku cadang atau komponen mobil. Di antara komponen mobil ada yang namanya piston, gardan, bumper, pelek, dashboard, altenator, dsb. Demikian pula, tiap bagian keris yang berlainan bentuknya berlainan pula namanya.

Rincikan keris juga merupakan variasi dari sebilah keris untuk dapat disebut dhapurnya. Misalnya pada keris sederhana dhapur Brojol hanya memiliki rincikan Blumbangan atau pejetan saja. Sedangkan Dhapur Sepaner adalah memiliki rincikan sekar kacang, tikel alis, sraweyan, sogokan dan greneng. Setiap nama dhapur keris ditentukan oleh adanya Rincikan keris dan bilah lurus atau bentuk luknya.

Secara garis besar, sebilah keris dapat dibagi atas tiga bagian yakni bagian bilah atau wilahan, bagian ganja dan bagian pesi. Bagian wilahan juga dapat dibagi tiga, yakni bagian pucukan yang paling atas, awak-awak atau tengah dan sor-soran atau bidang bawah. Pada bagian sor-soran inilah ricikan keris paling banyak ditempatkan.

Nama-nama ricikan keris adalah:
1. Pesi
2. Metuk
3. Gonjo
4. Greneng
5. Rondo Nunut
6. Buntut Cecak
7. Punukan
8. Dho
9. Ri Pandan (8+9 = Ron Dho)
10. Tingil
11. Sraweyan
12. Bungkul
13. Janur
14. Sogokan (ada yang rangkap ada yang depan saja)
15. Poyuhan
16. Pejetan/Blumbangan
17. Gandik
18. Tikel Alis
19. Jenggot
20. Sekar Kacang atau Kembang Kacang
21. Jalen
22. Lambe Gajah
23. Pundak atau Sumping
24. Pudak Sa'tegal Depan
25. Pudak Sa'tegal Belakang
26. Adha-adha atau Geger Sapi
27. Lis-lisan
28. Gusen
29. Kruwingan atau Gulo Milir
30. Kruwingan Cucuk Manuk
31. Pucukan Mbuntut Tumo
32. Pucukan Anggabah Kopong
33. Sogokan Sampir atau Sinebo
34. Bawang Sebungkul
35. Sekar Kacang Pogok
36. Lambe Gajah Rangkep
37. Gonjo Wuwung
38. Gonjo Kelap Lintah
39. Gonjo Wilut
40. Kanyut
41. Wetengan Gonjo
42. Sirah Cecak
43. Buntut Cecak Sebit Lontar
44. Sirak Cecak Melinjo atau Nyangkem Kodok
45. Buntut Cecak Nguceng Mati
46. Gandik Pethuk atau Laler Mengeng
47. Mendak
48. Ukir atau Deder
49. Kinatah emas


Nama bagian-bagian atau Rincikan Keris ini digunakan untuk keris se Nusantara. Hanya sering ada perbedaan penyebutan dipengaruhi oleh bahasa lokal. Misalnya di Sulawesi menyebut Keris itu Sele atau Tappi, Gonjo adalah Kancing, Pesi disebut Oting. Demikian pula di Madura Pesi disebut Pakseh, Gonjo disebut Ghencah, bilah keris disebut Ghember sementara di Bali ada beberapa perbedaan pula menyebut Keris dengan Kadutan, Pesi disebut Panggeh, Gonjo disebut Ganje, Hulu keris disebut Danganan dslb.

Untuk pengetahuan perkerisan, baik sebagai kolektor atau pemerhati, ricikan keris walaupun merupakan pengetahuan dasar menjadi sangat penting karena setidaknya dapat untuk membedakan jenis-jenis Dhapur. Seseorang tidak akan mungkin mengetahui nama dapur bilamana ia tidak hafal terhadap ricikan keris ini.

sumber:javakeris.com

Apa Yang Sebenarnya Anda Harapkan Dari Sebuah Pusaka?

Apa yang sebenarnya diharapkan dari sebuah Pusaka? keris,cundrik,tombak,pedang,mustika,akik dsb. 
Ada semacam piweling atau perkataan bijak para orang-orang tua terdahulu (leluhur),bahwa keris atau tosan aji lainya itu hidup dengan makna mampu menghidupi.dengan cara bagai mana? bagi sang empu dan panjak bahkan tukang ubub(memompa api)bisa menjadi sumber penghidupan, dengan menarik ongkos jasa pembuatan.bagi para pengrajin warangka,pendhok,mendhak,deder/ukiran, juga bisa menjadi sumber pendapatan.


Dari sekelumit uraian di atas maka bisa kita sedikit simpulkan bahwa keris tidak bisa menjadikan kita kaya, pasti secara langsung tidak bisa kecuali kita todongkan keris untuk menyerahkan sedikit uang. Itu namanya merampok! jelas perbuatan yang tidak terpuji dan beresiko lagi bisa-bisa ketangkap polisi! Ada juga keris yang diproses katanya??? keris bisa melipat gandakan uang! menurut saya ini hanya akal-akalan si penipu! paling yang digunakan trik sulap yang dikemas secara supranatural agar kelihatan magis. Jikalau ada berita itu agar orang lebih populer dan terkesan terlihat sakti dimata orang, jika anda percaya maka anda akan bisa diperdaya sebab diri anda sudah tersugesti.


Di jaman ini keris juga mampu menjadi sumber pendapatan.contoh untuk tukang marangi, penjual keris dari kalangan isoteri (mis:dukun/paranormal) maupun eksoteri, dan juga yang disebutkan pada paragraf sebelumnya.bijaksana sekali seandainya kita tidak berharap lebih pada keampuhan keris. Karena keris akan menjadi ampuh itu tergantung pada siapa keris berada, di tangan anda semisal tentu akan lain kesaktianya dibanding saat keris dipegang oleh para raja. Bahkan disaat pemilik pusaka kepepetpun, keris tidak mampu berbuat banyak (mengeluarkan kedahsyatan magisnya). Sekali lagi yang paling berperan da sakti adalah yang menciptakan si-pembuat keris atau orang yang memegangnya.


Menurut saya keris merupakan kitab atau ajaran para leluhur yang bernilai ajaran hidup yang mulia, yang perlu dipelajari, dirasakan dan diamalkan, maka kita baru akan mampu memetik hasilnya. Pusaka yang mengandung khasiat sebenarnya karena olah batin si empunya yang membuat keris menjadi sedemikian rupa, sehingga membentuk suatu pamor guratan tertentu yang mengandung symbol yang mempunyai makna. Pusaka tercipta sebagai perlambang untuk dijiwai agar maksud dan tujuan si empunya dapat terwujud, tapi tentunya harus di aplikasikan dengan usaha secara riil dan spirituil oleh si pemilik pusaka tersebut. Keampuhan ataupun kehebatan keris bukan segalanya, yang kita cari sebenarnya keampuhan dan kehebatan kita sendiri.


sumber: http://tokokeris.com/ dan http://www.pusakaleluhurnusantara.co.cc/

Keris Pusaka Terkecil Di Dunia ( Di Maharkan)

KOLEKSI PUSAKA LANGKA & SATU-SATUNYA KERIS TERKECIL DI DUNIA 

1. Khusus bagi Penggemar Barang Antik / Pecinta Benda Bertuah / Kolektor / Paranormal /dsb. 
Telah di maharkan Keris Pusaka yaitu: 
-Keris Jangkung Drajat (Luk 3 panjang 4cm) dan 
-Keris Songgo Drajat (Luk 9 panjang 3cm) 
Keris Pusaka ini cocok buat Pejabat / Pengusaha / Paranormal /dsb. 
Khasiat antara lain: Tingkatkan Power Kawibawan, Pancarkan Kharisma Pesona, Bungkeman, Tolak Balak, Tingkatkan Karier, Kokohkan Jabatan, Pengasihan, Penglarisan, dsb.



2. Koleksi Pusaka Paling Langka dan Satu-satunya di DUNIA! Keris TerKecil di Bumi Nusantara dan Keris TerMini di Mayapada
Berikut ini sepasang keris Luk 9 dengan panjang -/+ 1 cm yang merupakan KOLEKSI dari Raden Tjakra Djajaningrat. Bagi yang berminat Keris Pusaka beliau ini ikut serta di MAHARkan.
-Keris Wulan Angembara (Luk 9 panjang 1,1cm) 
-Keris Lintang Angembara (Luk 9 panjang 1,3cm)
Benar-benar Keris Terkecil di Dunia!!! Koleksi Langka!!! Barang Antik!!! Benda Unik!!! Yang Tidak akan di temukan di tempat manapun!!!
Keris Pusaka ini cocok buat Pejabat / Pengusaha / Paranormal / Kolektor / Penggemar Barang Antik / Pecinta Benda Bertuah / dsb. 
Khasiat antara lain: Kawibawan, Keselamatan, Jayakawijayan, Junjung Derajat, Kadibyan, Singkir, Tolak Balak, Kaprawiran, dsb.


3. Bagi yang berminat untuk meMahari Keris Pusaka ini silahkan hubungi Pusaka Leluhur atau informasi hub.Pusaka Leluhur Nusantara









Istilah Dalam Keris Pusaka

Keris pusaka legendaris hasil jerih payah nenek moyang bangsa Indonesia pada umumnya terbuat dari paduan berbagai logam dan juga bukan logam yang memiliki sifat mekanik yang baik.

Paduan logam dan bukan logam tersebut dibentuk menjadi sebuah senjata tajam. Namun sebelumnya dilakukan penguatan terhadap bahan paduan tersebut baik dengan heat treatmen maupun dengan perlakuan fisik seperti pada posting cara pembuatan keris pusaka yang lalu.

Nenek moyang kita pada umumnya membuat senjata berupa keris berbentuk lurus, pipih, panjang, dan semua bagian tepinya tajam serta pada bagian ujung berbentuk lancip.
Pada dasarnya nenek moyang kita menciptakan benda pusaka berbentuk keris ini berfungsi sebagai media berperang untuk melawan musuh di medan laga.

Bentuk pusaka yang semua tepinya tajam diharapkan dapat lebih optimal dalam penggunaannya yaitu meyerang lawan.
Bagian tepi yang tajam berfungsi untuk memotong atau memangkas lawan.
Sedangkan bagian ujung dengan bentuk yang runcing berfungsi untuk menusuk lawan.

Dengan berkembangnya pemikiran dari nenek moyang kita dalam hal teknologi pembuatan keris pusaka, memunculkan bentuk pusaka yang agak berbeda dari kebanyakan yaitu sebuah keris dengan bentuk luk atau berlekok-lekok.

Luk dari keris pusaka juga sangat banyak variasinya, ada keris luk 1, keris luk 2, keris luk 3, dan sebagainya yang dapat ditandai dengan jumlah luk yang dipergunakan pada keris tersebut.

Sekarang, keris dengan luk memiliki nilai estetika tersendiri dalam perkembangannya.
Namun ternyata dibalik berbentuk luk tersimpan keistimewaan yang sangat luar biasa. Disamping menambah nilai estetika keris juga dapat meningkatkan efisiensi penggunaan keris pusaka.

Artinya keris pusaka lebih mampu untuk melakukan perlawanan terhadap musuh seperti penusukan, penggiresan dan pemotongan.
Hal ini disebabkan adanya kompleksitas mata tajam dari keris pusaka dengan bentuk luk tersebut.

Sebagai contoh sebuah keris pusaka dengan bentuk luk dipergunakan untuk melakukan tusukan pada lawan (gerak lurus menuju tubuh lawan).

Dalam hal ini keris pusaka meskipun bekerja dalam tusukan dalam arah mendatar juga bekerja proses pemotongan dan penggoresan pada bagian tepi keris. Proses ini tidak dimiliki oleh keris berbentuk lurus yang hanya bekerja untuk penggoresan pada bagian tepinya.

Demikian saat keris puksaka berbentuk luk dipergunakan untuk melakukan ayunan atau pemotongan pada lawa dengan arah melingkar.
Pada keris tanpa luk hanya akan bekerja proses pemotongan saja. Akan tetapi pada keris luk akan bekerja disamping dapat melakukan pemotongan juga dapat melakukan proses penggoresan sekaligus.


Tangguh Segaluh

Warangka Sandang
Walikat



Keris Bima

Dalam budaya perkerisan ada sejumlah istilah yang terdengar asing bagi orang awam.. Pemahaman akan istilah-istilah ini akan sangat berguna dalam proses mendalami pengetahuan mengenai keris. Istilah dalam dunia keris, khususnya di Pulau Jawa, yang sering dipakai: angsar, dapur, pamor, perabot, tangguh, tanjeg, dan lain sebagainya.
Di bawah ini adalah uraian singkat yang disusun secara alfabetik mengenai istilah perkerisan. Istilah ini lazim digunakan di Pulau Jawa dan Madura, tetapi dimengerti dan kadang kala juga digunakan di daerah lainnya, seperti Sulawesi, Sumatra, dan bahkan di Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

Angsar

adalah daya kesaktian yang dipercaya oleh sebagian orang terdapat pada sebilah keris. Daya kesaktian atau daya gaib itu tidak terlihat, tetapi dapat dirasakan oleh orang yang percaya. Angsar dapat berpengaruh baik atau posistif, bisa pula sebaliknya.
Pada dasarnya, semua keris ber-angsar baik. Tetapi kadang-kadang, angsar yang baik itu belum tentu cocok bagi setiap orang. Misalnya, keris yang angsar-nya baik untuk seorang prajurit, hampir pasti tidak cocok bila dimiliki oleh seorang pedagang. Keris yang angsar-nya baik untuk seorang pemimpin yang punya banyak anak buah, tidak sesuai bagi pegawai berpangkat rendah.
Guna mengetahui angsar keris, diperlukan ilmu tanjeg. Sedangkan untuk mengetahui cocok dan tidaknya seseorang dengan angsar sebuah keris, diperlukan ilmu tayuh.

Dapur

Adalah istilah yang digunakan untuk menyebut nama bentuk atau type bilah keris. Dengan menyebut nama dapur keris, orang yang telah paham akan langsung tahu, bentuk keris yang seperti apa yang dimaksud. Misalnya, seseorang mengatakan: "Keris itu ber-dapur Tilam Upih", maka yang mendengar langsung tahu, bahwa keris yang dimaksud adalah keris lurus, bukan keris yang memakai luk. Lain lagi kalau disebut dapur-nya Sabuk Inten, maka itu pasti keris yang ber-luk sebelas.


Keris 13 Luk
Dunia perkerisan di masyarakat suku bangsa Jawa mengenal lebih dari 145 macam dapur keris. Namun dari jumlah itu, yang dianggap sebagai dapur keris yang baku atau mengikuti pakem hanya sekitar 120 macam saja. Serat Centini, salah satu sumber tertulis, yang dapat dianggap sebagai pedoman dapur keris yang pakem memuat rincian jumlah dapur keris sbb: Keris lurus ada 40 macam dapur. Keris luk tiga ada 11 macam. Keris luk lima ada 12 macam. Keris luk tujuh ada 8 macam. Keris luk sembilan ada 13 macam. Keris luk sebelas ada 10 macam. Keris luk tigabelas ada 11 macam. Keris luk limabelas ada 3 macam. Keris luk tujuhbelas ada 2 macam. Keris luk sembilan belas, sampai luk duapuluh sembilan masing-masing ada semacam.
Namun, menurut manuskrip Sejarah Empu, karya Pangeran Wijil, jumlah dapur yang dianggap pakem lebih banyak lagi. Catatan itu menunjukkan dapur keris lurus ada 44 macam, yang luk tiga ada 13 macam, luk sebelas ada 10 macam, luk tigabelas ada11 macam, luk limabelas ada 6 macam, luk tujuhbelas ada 2 macam, luk sembilanbelas sampai luk duapuluh sembilan ada dua macam, dan luk tigapuluh lima ada semacam. Jumlah dapur yang dikenal sampai dengan dekade tahun 1990-an, lebih banyak lagi.

Luk

Istilah ini digunakan untuk bilah keris yang tidak lurus, tetapi berkelok atau berlekuk. Luk pada keris selalu gasal, tidak pernah genap. Hitungannya mulai dari luk tiga, sampai luk tigabelas. Itu keris yang normal. Jika luknya lebih dari 13, dianggap sebagai keris yang tidak normal, dan disebut keris kalawijan atau palawijan.
Jumlah luk pada keris selalu gasal, tidak pernah genap. Selain itu, irama luk keris dibagi menjadi tiga golongan. Pertama, luk yang kemba atau samar. Kedua, luk yang sedeng atau sedang. Dan ketiga, luk yang rengkol -- yakni yang irama luknya tegas.

Mas kawin

Dalam dunia perkerisan adalah pembayaran sejumlah uang atau barang lain, sebagai syarat transaksi atau pemindahan hak milik atas sebilah keris, pedang, atau tombak. Dengan kata yang sederhana, mas kawin atau mahar adalah harga.
Istilah mas kawin atau mahar ini timbul karena dalam masyarakat perkerisan terdapat kepercayaan bahwa isi sebilah keris harus cocok atau jodoh dengan pemiliknya. Jika isi keris itu jodoh, si pemilik akan mendapat keberuntungan, sedangkan kalau tidak maka kesialan yang akan diperoleh. Dunia perkerisan juga mengenal istilah melamar, bilamana seseorang berminat hendak membeli sebuah keris.



Mendak

adalah sebutan bagi cincin keris, yang berlaku di Pulau Jawa, Bali, dan Madura. Di daerah lain biasanya digunakan istilah cincin keris. Mendak hampir selalu dibuat dari bahan logam: emas, perak, kuningan, atau tembaga. Banyak di antaranya yang dipermewah dengan intan atau berlian. Pada zaman dulu ada juga mendak yang dibuat dari besi berpamor.
Selain sebagai hiasan kemewahan, mendak juga berfungsi sebagai pembatas antara bagian hulu keris atau ukiran dengan bagian warangka.


Pamor Wos Wutah

Pamor dalam dunia perkerisan memiliki 3 (tiga) macam pengertian. Yang pertama menyangkut bahan pembuatannya; misalnya: pamor meteorit, pamor Luwu, pamor nikel, dan pamor sanak. Pengertian yang kedua menyangkut soal bentuk gambaran atau pola bentuknya. Misalnya: pamor Ngulit Semangka, Beras Wutah, Ri Wader, Adeg, dan sebagainya. Ketiga, menyangkut soal teknik pembuatannya, misalnya: pamor mlumah, pamor miring, dan pamor puntiran.

 
Pamor Kul Buntet / Batu Lapak
Selain itu, ditinjau dari niat sang empu, pola pamor yang terjadi masih dibagi lagi menjadi dua golongan. Kalau sang empu membuat pamor keris tanpa merekayasa polanya, maka pola pamor yang terjadi disebut pamor tiban. Orang akan menganggap bentuk pola pamor itu terjadi karena anugerah Tuhan. Sebaliknya, jika sang empu lebih dulu membuat rekayasa pla pamornya, disebut pamor rekan [rékan berasal dari kata réka = rekayasa]. Contoh pamor tiban, misalnya: Beras wutah, Ngulit Semangka, Pulo Tirta. Contoh pamor rekan, misalnya: Udan Mas, Ron Genduru, Blarak Sinered, dan Untu Walang. Ada lagi yang disebut pamor titipan atau pamor ceblokan, yakni pamor yang disusulkan pembuatannya, setelah bilah keris selesai 90 persen. Pola pamor itu disusulkan pada akhir proses pembuatan keris. Contohnya, pamor Kul Buntet, Batu Lapak, dll.



Pendok

berfungsi sebagai pelindung atau pelapis gandar, yaitu bagian warangka keris yang terbuat dari kayu lunak. Namun fungsi pelindung itu kemudian beralih menjadi sarana penampil kemewahan. Pendok yang sederhana biasanya terbuat dari kuningan atau tembaga, tetapi yang mewah terbuat dari perak atau emas bertatah intan berlian.
Bentuk pendok ada beberapa macam, yakni pendok bunton, blewehan, slorok, dan topengan.

Perabot

Dalam dunia perkerisan, asesoris bilah keris disebut perabot keris. Perlengkapan atau asesoris itu meliputi warangka atau sarung keris, ukiran atau hulu keris, mendak atau cincin keris, selut atau pedongkok, dan pendok atau logam pelapis warangka.

Ricikan

Adalah bagian-bagian atau komponen bilah keris atau tombak. Masing-masing ricikan keris ada namanya. Dalam dunia perkerisan soal ricikan ini penting, karena sangat erat kaitannya dengan soal dapur dan tangguh keris. Sebilah keris ber-dapur Jalak Sangu Tumpeng tanda-tandanya adalah berbilah lurus, memakai gandik polos, pejetan, sogokan rangkap, tikel alis, dan tingil. Gandik polos, pejetan, sogokan rangkap, tikel alis, dan tingil, adalah komponen keris yang disebut ricikan.

Selut


Selut Surakarta njeruk keprok
seperti mendak, terbuat dari emas atau perak, bertatahkan permata. Tetapi fungsi selut terbatas hanya sebagai hiasan yang menampilkan kemewahan. Dilihat dari bentuk dan ukurannya, selut terbagi menjadi dua jenis, yaitu selut njeruk pecel yang ukurannya kecil, dan selut njeruk keprok yang lebih besar. Sebagai catatan; pada tahun 2001, selut nyeruk keprok yang bermata berlian harganya dapat mencapai lebih dari Rp. 20 juta!
Karena dianggap terlalu menampilkan kemewahan, tidak setiap orang mau mengenakan keris dengan hiasan selut.

Tangguh

Tangguh arti harfiahnya adalah perkiraan atau taksiran. Dalam dunia perkerisan maksudnya adalah perkiraan zaman pembuatan bilah keris, perkiraan tempat pembuatan, atau gaya pembuatannya. Karena hanya merupakan perkiraan, me-nangguh keris bisa saja salah atau keliru. Kalau sebilah keris disebut tangguh Blambangan, padahal sebenarnya tangguh Majapahit, orang akan memaklumi kekeliruan tersebut, karena bentuk keris dari kedua tangguh itu memang mirip. Tetapi jika sebuah keris buatan baru di-tangguh keris Jenggala, maka jelas ia bukan seorang ahli tangguh yang baik.
Walaupun sebuah perkiraan, tidak sembarang orang bisa menentukan tangguh keris. Untuk itu ia perlu belajar dari seorang ahli tangguh, dan mengamati secara cermat ribuan bilah keris. Ia juga harus memiliki photographic memory yang kuat.
Mas Ngabehi Wirasoekadga, abdidalem Keraton Kasunanan Surakarta, dalam bukunya Panangguhing Duwung (Sadubudi, Solo, 1955) membagi tangguh keris menjadi 20 tangguh. Ia tidak menyebut tentang tangguh Yogyakarta, melainkan tangguh Ngenta-enta, yang terletak di dekat Yogya. Keduapuluh tangguh itu adalah:

  1. Pajajaran   2. Tuban   3. Madura   4. Blambangan   5. Majapahit
  6. Sedayu   7. Jenu   8. Tiris-dayu   9. Setra-banyu   10. Madiun
  11. Demak   12. Kudus   13. Cirebon   14. Pajang   15. Pajang
  16. Mataram   17. Ngenta-enta,Yogyakarta   18. Kartasura   19. Surakarta    
 
Keris Buda dan tangguh kabudan, walaupun di kenal masyarakat secara luas, tidak dimasukan dalam buku buku yang memuat soal tangguh. Mungkin, karena dapur keris yang di anggap masuk dalam tangguh Kabudan dan hanya sedikit, hanya dua macam bentuk, yakni jalak buda dan betok buda.
Sementara itu Bambang Harsrinuksmo dalam Ensiklopedi Keris (Gramedia, Jakarta 2004) membagi periodisasi keris menjadi 22 tangguh, yaitu:

  1. Tangguh Segaluh   2. Tangguh Pajajaran
  3. Tangguh Kahuripan   4. Tangguh Jenggala
  5. Tangguh Singasari   6. Tangguh Majapahit
  7. Tangguh Madura   8. Tangguh Blambangan
  9. Tangguh Sedayu   10. Tangguh Tuban
  11. Tangguh Sendang   12. Tangguh Pengging
  13. Tangguh Demak   14. Tangguh Panjang
  15. Tangguh Madiun   16. Tangguh Koripan
  17. Tangguh Mataram Senopaten   18. Mataram Sultan Agung
  19. Mataram Amangkuratan   20. Tangguh Cirebon
  21. Tangguh Surakarta   22. Tangguh Yogyakarta

Ada lagi sebuah periode keris yang amat mudah di-tangguh, yakni tangguh Buda. Keris Buda mudah dikenali karena bilahnya selalu pendek, lebar, tebal, dan berat. Yang sulit membedakannya adalah antara yang aseli dan yang palsu.

Tanjeg

adalah perkiraan manfaat atau tuah keris, tombak, atau tosan aji lainnya. Sebagian pecinta keris percaya bahwa keris memiliki 'isi' yang disebut angsar. Kegunaan atau manfaat angsar keris ini banyak macamnya. Ada yang menambah rasa percaya diri, ada yang membuat lebih luwes dalam pergaulan, ada yang membuat nasihatnya di dengar orang. Untuk mengetahui segala manfaat angsar itu, diperlukan ilmu tanjeg. Dalam dunia perkerisan, ilmu tanjeg termasuk esoteri keris.

Tayuh

Merupakan perkiraan tentang cocok atau tidaknya, angsar sebilah keris dengan (calon) pemiliknya. Sebelum memutuskan, apakah keris itu akan dibeli (dibayar mas kawinnya), si peminat biasanya terlebih dulu akan me-tayuh atas keris itu. Tujuannya untuk mengetahui, apakah keris itu cocok atau berjodoh dengan dirinya.



Ukiran Surakarta
Ukiran/Hulu

Kata ukiran dalam dunia perkerisan adalah gagang atau hilt. Berbeda artinya dari kata 'ukiran' dalam bahasa Indonesia yang padanannya ialah carved atau engraved. Gagang keris di Bali disebut danganan, di Madura disebut landheyan, di Surakarta disebut jejeran, di Yogyakarta disebut deder. Sedangkan daerah lain di Indonesia dan Malaysia, Singapura, serta Brunei Darussalam disebut hulu keris.
Javakeris memakai istilah ukiran dan hulu keris mengingat semua daerah itu juga mengenal dan memahami arti kata ukiran dalam perkerisan. Bentuk ukiran atau hulu keris di setiap daerah berbeda satu sama lain.
Di bawah ini adalah contoh bentuk hulu keris dari beberapa daerah.

Hulu

Warangka

Atau sarung keris kebanyakan terbuat dari kayu yang berserat dan bertekstur indah. Namun di beberapa daerah ada juga warangka keris yang dibuat dari gading, tanduk kerbau, dan bahkan dari fosil binatang purba. warangka keris selalu dibuat indah dan sering kali juga mewah. Itulah sebabnya, warangka juga dapat digunakan untuk memperlihatkan status sosial ekonomi pemiliknya.
Bentuk warangka keris berbeda antara satu daerah dengan lainnya. Bahkan pada satu daerah seringkali terdapat beberapa macam bentuk warangka. Perbedaan bentuk warangka ini membuat orang mudah membedakan, sekaligus mengenali keris-keris yang berasal dari Bali, Palembang, Riau, Madura, Jawa, Bugis, Bima, atau Malaysia.
Berikut adalah jenis-jenis warangka dari berbagai daerah perkerisan:


Ladrang Kadipaten
Warangka Surakarta

Biasanya terbuat dari kayu cendana wangi atau cendana Sumbawa (sandalwood - Santalum Album L.) Pilihan kedua adalah kayu trembalo, setelah itu kayu timaha pelet.
Warangka ladrang terbagi menjadi empat wanda utama, yaitu Ladrang Kasatriyan, Ladrang Kadipaten, Ladrang Capu, dan Ladrang Kacir. Dua wanda yang terakhir sudah jarang dibuat, sehingga kini menjadi langka.
Warangka ladrang adalah jenis warangka yang dikenakan untuk menghadiri suatu upacara, pesta, dan si pemakai tidak sedang melaksanakan suatu tugas. Bila dibandingkan pada pakaian militer, warangka ladrang tergolong Pakaian Dinas Upacara (PDU).

Selain ladrang, di Surakarta juga ada warangka gayaman, yang dikenakan pada saat orang sedang melakukan suatu tugas. Misalnya, sedang menjadi panitia pernikahan, sedang menabuh gamelan, atau sedang mendalang. Prajurit keraton yang sedang bertugas selalu mengenakan keris dengan warangka gayaman. Warangka gayaman Surakarta juga ada beberapa jenis, di antaranya: Gayaman Gandon, Gayaman Pelokan, Gayaman Ladrang, Gayaman Bancigan, Gayaman Wayang.
Jenis warangka yang ketiga adalah warangka Sandang Walikat. Bentuknya sederhana dan tidak gampang rusak. Warangka jenis inilah yang digunakan manakala seseorang membawa (bukan mengenakan) sebilah keris dalam perjalanan.

Warangka Yogyakarta


Warangka Yogyakarta
Bentuk warangka di Yogyakarta mirip dengan Surakarta, hanya ukurannya agak lebih kecil, gayanya lebih singset. Yang bentuknya serupa dengan warangka ladrang, di Yogyakarta disebut branggah. Kayu pembuat warangka branggah di Yogyakarta adalah kayu trembalo dan timaha. Sebenarnya penggunaan warangka branggah di Yogyakarta sama dengan warangka ladrang di Surakarta, tetapi beberapa dekade ini norma itu sudah tidak terlalu ketat di masyarakat.
Jenis bentuk warangka Yogyakarta lainnya adalah gayaman. Dulu ada lebih kurang delapan jenis warangka gayaman, tetapi kini hanya dua jenis wanda warangka yang populer, yakni gayaman ngabehan dan gayaman banaran. Warangka gayaman dikenakan pada saat seseorang tidak sedang mengikuti suatu upacara.
Jenis bentuk warangka yang ketiga adalah sandang walikat, yang boleh dibilang sama bentuknya dengan sandang walikat gaya Surakarta.

Sumber: Java Keris/zonasaintek.blogspot.com